Thursday, 11 July 2013

Someone help me.

Bahaya bila selalu rasa diri ini berada pada pihak yang benar.

Sometimes it's not about being right or wrong, and sometimes there is no right or wrong. There are just options to choose from and some people choose differently than others. 

More often than not, people are different than other people. It is rare to find the same person in and out, exactly equal in every way. 

Thus. there are always distinction and variety to make us all special and that makes us all of an  expert in one way or another of an aspect.

That's why they say that a diamond has so many facets. Sometimes we are looking at only one facet at a time, and yet that facet is just only a piece of one whole. 

We all make one whole. We are one. All for one, and one for all.
Amal jamaie' perhaps?



ps/: i know that sounded a bit vulgar. we make a hole??

Wednesday, 10 July 2013

Soleh wa musleh

Mudah sahaja untuk berbicara, mudah sahaja untuk berkata.

Mudah sahaja untuk presentasikan sesuatu, malah lagi mudah untuk berkongsi (share).

Namun, yang susahnya adalah pelaksanaan, pengamalan, pengaplikasian, perbuatan...

... dalam bentuk ke setiap aspek hidup kita dan juga segala aspek dalam pemikiran kita. Jangan dilihat sebagai sesuatu yang sempit dan tidak bisa dikembangkan. Sebenarnya maksud dan ertinya lebih luas dari apa yang kita fikirkan. Lebih tersebar dari akal kita yang tak seberapa langsung.

Sebab itulah ia suatu berita yang agung yang merentasi masa, zaman, tempat, suku kaum, umur, segala vertikal dan horizontal sisi dalam dunia ini.

Ia lebih agung dan besar dari apa yang kita anggapkan. Lebih besar dari diri kita yang kita selalu pentingkan.

Hatta, jiwa kita harus besar. Jiwa kita harus selalu memikirkan tentang orang lain selain dari diri sendiri sahaja. Jiwa kita harus sanggup berkorban demi kepentingan besar dari diri kita. Dengan itu baru kita layak untuk dikurniakan ganjaran yang semua orang idam-idamkan. Ganjaran yang semua orang impi-impikan dan mahukan.

Masakan tidak menjadi seorang yang narcicisstic dan self-centered disukai sesiapa pun? Masakan pula orang yang selalu pentingkan diri layak untuk pergi ke suatu tempat yang hanya disediakan untuk orang yang berkorban diri untuk manusia lain?

Apatah lagi Allah yang lebih menyukai jika kita saling mengingati dan mengajari dengan hikmah dan sabar.

Back to Allah.

Iyyakana'budu wa iyyakanas ta'in.
Ihdinas sirotolmustaqim.

Sukar untuk kita anggarkan bagaimana reaksi dan respon kita terhadap sesuatu situasi melainkan perkara itu benar-benar terjadi di batang hidung kita sendiri.

Mudah sahaja untuk kita berkongsikan video-video, gambar-gambar, kisah-kisah pengalaman para-para pejuang, para-para syahid, para-para mu'minin yang melalui pahit getir suasana yang memang memeritkan, namun tiada apa-apa yang terjadi pada tubuh kita ini.

Malah kita ini enak baring di atas katil, sambil makan kerupuk dan kentang goreng bercicahkan saus cili cap thai, dengan air jus oren yang dingin untuk menghilangkan rasa dahaga kita. Bahkan kita menggoyang kaki sambil melihat di kaca mata skrin keadaan yang sangat kelam kabut, menyedihkan, namun kadang-kadang kalau kita selalu melihat perkara sebegitu, kita sendiri senang dan gampang untuk merasakan seperti sudah terbiasa. Rendered moot.

It becomes somewhat nullifying your senses.

Sedangkan mereka di sana melawan musuh yang nyata, aku di sini melawan musuh yang fantasi, bikinan sendiri, movie-movie, perang pemikiran, selalu terikut dengan syahwat, tunduk kepada nafsu, mudah mengalah dan mengomel, usaha yang tidak bisa diukur karena usaha setakat seciput sahaja. Lantas, berani mengatakan orang yang kurang amalnya secara zahir, lebih rendah dari derajatnya, berani merasakan orang yang kurang faham dari sudut pemikirannya, takkan tahu apa yang dia lakukan.

Siapakah aku?

Tahukah aku, bahawa aku ini banyak dosanya. Lebih besar dosanya karena aku lebih tahu dan tidak melakukan apa-apa.

Siapakah aku?

Kalau lah aku ini lebih tinggi derajatnya, kenapa aku ni seolah-olah tidak melakukan apa-apa untuk membaikkan keadaan diri sendiri dan orang sekitar, malah orang jauh termasuk orang di seluruh dunia?


Musuh sebenar yang paling sulit untuk dikalahkan adalah diri sendiri. Jikalau kita dapat menewaskan nafsu (yakni diri kita) maka perkara-perkara selain dari itu, mudah banget.

Dan aku akui, memang itu yang sedang aku depani sekarang. Dan sekarang ini tiada pertolongan dan bantuan yang boleh aku cari selain, dan yang paling aku perlukan hanya dariMu ya Allah.

Aku berharap pada Engkau ya Allah. Bantulah aku mengatasi masalah-masalah aku ini. Aku ni hambaMu yang lemah, hina, sering lalai dan mudah lupa. Tolonglah ampunkan segala dosaku, tolonglah kurniakan aku petunjuk hidayahMu.

Wednesday, 26 June 2013

Mana nak cari?





Mana nak cari rijal-rijal, syabab-syabab yang bersemangat tinggi dan sanggup perjuangkan segalanya untuk Allah dan Ad-deen?

Dimana adanya proses takwin, disitulah kita bisa ketemu hasil dan produk pembentukan syakhsiyah Islamiyyah. 

Friday, 22 March 2013

Cerita lama jangan diungkitkan.

Tapi terkadang, perlu juga untuk mengenang dari mana kita datang, supaya jelas dan cerah ke arah mana kita ingin pergi.

Terkadang, perlu untuk ingat kembali kesalahan-kesalahan silam, dan juga kisah-kisah semangat lepas, untuk mendorong kita ke depan.

Seringkali, haruslah muhasabah kembali. Mengambil ibroh dari ceritera-ceritera yang bisa menjadi pengajaran dan pelajaran.

http://omelannya.blogspot.com/2010/11/late-bloomer.html

http://omelannya.blogspot.com/2010/11/rutin-pagi-setiap-hari.html

http://omelannya.blogspot.com/2010/06/face-of-artist.html

http://omelannya.blogspot.com/2010/06/it-was-like-i-was-on-top-of-world.html

Tuesday, 19 March 2013

In search of a new heart.

Our hearts needs constant evaluation and purification.

A term colloqiually phrased as Tazkiyyah and Muhasabah.


More often than not, we make mistakes.

Sometimes, we make them too often, it becomes a habit.

Thus, after it becomes habitual, we tend to believe that it's not something wrong. That it has become a part of us. That it has integrated in our daily life. That we are trying to defend it rather than getting rid of it.

Problems become too usual for us, we tend to forget that they are actually problems. And there it is!

The root of all the problem.

The heart or in this case, our Qalbu.

Is has become desensitized to ugly deeds. Is has lessened it's ability to detect harmful doings. It has become accustomed to making sins. And there it is!

Emerges another new problem.

Sins becoming habitual.

May Allah show us a straight path and may we always and forever be on the side of Iman. On the tip of the scales, more leverage on the right side. The al-haq side.

Allahu muqqalibal qulub, thabbit qalbi ala deenik. O mover (or flip-flopper) of hearts, make my heart firm upon your religion

p/s: i can easliy debate on how scientifically this hadeeth can be proven, but i lack the enthusiasm tu persuade and make people see the truth at this moment. For to those who are of the mu'minin. They do not need proof to the rightousness of an ayah or a surah or a hadeeth. They should easily believe that all the syariah that Allah has sent down to us in the quran, has all the merit, goodness and benefit in the world. He is All-knowing. Is He not? 

Wednesday, 13 March 2013

Lahirnya singa.

Mengambil maksud dari kata-kata Syed Qutb dalam tulisannya Ma'alim Fit Thoriq, kalimah termasyhur, kalimah tertinggi, kalimah La Ilaha Ilallah, merupakan satu kalimah yang paling berkuasa.

It empowers you.

Bukan bererti kalimah itu merupakan satu kalimah berhikmat dari segi unsur ilmu hitam dan sorcery. Not in the sense that it is a word that has magical properties. Namun yang ingin aku maksudkan di sini adalah kerana kalimah itu, ia dapat mempersaudarakan yang bukan ada kaitan antara satu sama lain bahkan yang bukan mempunyai hubungan darah atau talian keluarga. Kerana kalimah itu ia juga dapat membebaskan manusia dari belenggu-belenggu kebatilan dan taghut. Kerana kalimah itu, bumi ini aman dan sentosa dijaga oleh peraturan-peraturan yang ditegakkan oleh khalifah yang berpandukan secara asasnya kalimah tersebut dengan segala upaya dan usaha mereka.

Itulah kisah silam yang tidak diceritakan dengan penuh antusias dan keizzahan. Barangkali ada, namun jarang. Rare.

Melainkan kita ini mengelilingi diri kita dengan manusia-manusia yang mempunyai rasa izzah dan semangat sepertimana yang ada pada sosok-sosok tokoh salafussoleh pada waktu dahulu. Bukankah khususnya sejarah KITA merupakan satu fakta, bukan fantasi. Bererti zaman pemerintahan Islam sebagai ustaz kepada seluruh alam, merupakan satu kisah yang bukan direkayasa. Bukan satu kisah yang menjadi satu mitos hanya digunakan pada waktu ingin berstorytelling untuk kanak-kanak sahaja mahupun sebagai peluru-peluru yang disimpan untuk dipakai pada waktu kita berjidal (debat).

Bahkan kisah-kisah para sahabat terdahululah yang memberikan kita semangat dan juga ibrah untuk mendepani kenyataan dan realiti zaman sekarang. Di mana satu bid'ah besar yang sedang berlaku ditengah-tengah lautan dunia manusia ini, tanpa mereka sedari bahawa ia sedang berlangsung.

Kenapa bisa terjadi begitu?

Memetik dari petikan dalam al-muntalaq, ditulis oleh Muhammad Ahmad Ar-Rasyid, penulis yang tersohor juga pada waktu kini:

Plan pendidikan mereka ini telah melahirkan kijang-kijang yang pengecut, tidak lagi mampu menerkam. Kijang-kijang ini tidak mahu lagi memikul apa-apa tanggungjawab dan sentiasa cuba melarikan diri seboleh-bolehnya....!
Inilah generasi baru putera-puteri Islam...!
Anak-anak singa yang bertukar menjadi kijang pengecut,

Sebenarnya mereka itu merdeka, lalu diperhambakan, dan mereka bergembira menjadi hamba.
- Bab 1, Menolak Al-Hawa, Anak singa diubah menjadi kijang yang pengecut.
Itulah kenyataan dahulu, dimana generasi dahulu yang digelar singa-singa Islam, pedang Allah, sanggup berjihad dan mati syahid mempertahankan kemuliaan, kedaulatan Islam dan kesucian yang dibawanya.

Mereka takkan pernah menerima dan sanggup menarik diri jika ditemukan pelusuk negeri di mana ada muslim di situ ditindas. Malah mereka tidak bisa membiarkan negeri mana-mana yang diperhambakan kepada manusia lainnya. Bak kata Syed Qutb, kalimah ini mengeluarkan kita daripada perhambaan antara sesama manusia kepada perhambaan kepada Allah. Mengeluarkan diri manusia dari perhambaan nafsu, perhambaan kebendaan, perhambaan jahiliyah kepada perhambaan kepada Allah sahaja. Bukankah Allah lebih berhak untuk menerima pujaan dan pujian kita? Bukankah Allah lebih berhak untuk mendapat pengabdian daripada kita?

Kenyataan kini?

Namun kalau kita lihat waqi' (keadaan) sekarang, kita dapat menemukan bukti-bukti dimana kembalinya manusia dan peradabannya kepada waktu dahulukala dimana perhambaan itu adalah sesama antara manusia. Mungkin tidak kelihatan persis mirip seperti waktu dahulu, namun sebenarnya kalau kita lihat dengan lebih teliti, kita dapat jumpa bahawa ia sudah menjelma dalam bentuk yang lebih kontemporari.

Di mana hukum-hukum Allah itu tidak dipedulikan. Malah dikira hukum-hukum buatan manusia lebih baik dan berkesan untuk menjadi peraturan hidup daripada syariat Allah yang sudah Allah tetapkan. Maka dengan itulah bermulanya, atau sudah lama berlangsung suatu pembodohan terhadap kaum manusia, di mana kaum manusia sudah kembali kepada salah satu bentuk perhambaan kepada manusia, daripada mengabdikan diri kepada Allah Maha Pencipta Maha Berkuasa. Yakni dengan mengikuti aturan-aturan buatan manusia, dan meyakini aturan itu lebih baik daripada diaplikasikan, dipraktikkan, dipercayai aturan yang sudah Allah rencanakan dan bikin untuk mereka.

Disitulah bermulanya, atau sudah lama berlangsung pembodohan itu. Pendidikan baru yang diajarkan dan diakartumbuhkan kedalam benak generasi baru ini berunsurkan kepada pembodohan. Pendidikan yang dibrandingkan sebagai Free Education, membawa anak-anak sekarang kearah satu penipuan supaya mereka ini dijinakkan, supaya melahirkan pengikut-pengikut, supaya mereka ini berada di dalam genggaman musuh-musuh KITA, supaya kita ini tunduk kepada kekuasaan mereka yang tidak berapa nak berkuasa pada hakikat sebenarnya, supaya kita ini disibukkan dengan mencari sesuap nasi untuk survive dalam dunia yang sudah semakin parah dari segi ekonomi, kononnya. Memenuhi kepala otak kita dengan fikiran di mana kita ini sudah ke arah suatu decline dan kita harus berusaha sedaya upaya untuk fikirkan jalan penyelesaian kepada harga-harga dunia ini. Menakuti kita dengan mengalih perhatian kita kepada masalah yang duniawi.  Padahal itulah masalahnya. Perhatian kita difokuskan kepada dunia, materialisme.

Kita sudah dijinakkan.

menukar helang rajawali menjadi burung puyuh,
mereka memperdayakan angkatan berkuda dengan irama merdu
lalu membenamkan bahtera ke dasar laut
mereka tidurkan kita dengan iramanya
dan memadamkan obor kita dengan tiupan nafasnya.- Sir Muhammad Iqbal, Al-Muntalaq.

We are the generation of the supposed to be lions that are tamed to be at the behest of their so called materialistic empire.

Kita dibuai dengan irama merdu mereka sehinggakan kita menjadi terlena, berdengkur...

Bangunlah angkatan Singa! Jadilah singa setiap dari kamu!

Mulakanlah langkahmu untuk membangunkan ummat ini dari tidur lena mereka kerana setelah ini, tidur yang lebih enak akan tiba. Gerakkanlah jari jemarimu, kakimu, tubuhmu, mulakanlah kerja dalam membangkit himmah dan menunjuki toriqul amal kepada ummah ini dalam mengembalikan kekuasaan yang sepatutnya hanya kepada Allah azza wa jalla. Dari saat itulah baru kita akan benar-benar menjadi merdeka. 

Merdeka dari perhambaan manusia sesama manusia dan nafsu. Hanya mengabdikan diri kepada Allah. Itulah merdeka yang hakiki, tak bukan?

Thabbatkanlah hatimu di jalan ini. Istiqomahlah dalam amal-amal yaumiyah. Wajibkan diri dalam menghadiri majlis-majlis tafakkur. Semuanya bermula denga tarbiyyah. 



Jangan jadi anak kucing yang mudah dijinakkan. Yang senang terbeli dengan pemberian seperti tulang ikan, secebis daging, seteguk susu. Sehinggakan dihina sebegitu rupa. Dibiarkan hidup dalam kemiskinan dan penindasan. Dipecahbelahkan supaya kita sesama sendiri bertengkar dimana mereka hidup dengan kemewahan hasil dari penipuan dan pembohongan terbesar zaman sekarang.

Itu sebenarnya tidak memadai bagi KITA. Sebenarnya bagi KITA ini, tidak boleh menerima sedikit pun, atau seolah-olah kita pasrah dengan "ketentuan" sebegini rupa. Kita haruslah menjadi sensitif dan peka terhadapa keadaan sekarang.Kita tidak boleh duduk berdiam diri, hanya berdoa suatu hari Allah akan berikan kemenangan kepada KITA ini. Kita mengharapkan sesuatu yang mircale terjadi tanpa kita berusaha untuk menghasilkan miracle itu.
Imam Ibnu Athaillah mengingatkan,

wajarkah kita mengharap sesuatu luar adat akan berlaku sedang kita tidak keluar dari adat kebiasaan kita yang kerap tunduk pada hawa nafsu?
Jadilah singa, yang tidak gentar menghadapi lawan, berani menerkam sesiapa yang memasuki wilayahnya, lantang dalam mengaum untuk put people at their place, supaya mereka sedar kedudukan mereka, hanyalah sebagai hamba Al-Khaliq.  Singa yang gagah perkasa, bertarung dan berentap sehingga nafas terakhir, yang merasa izzah dengan kekuatannya sebagai Khalifah (king of the jungle) di muka bumi ini, a lion that stands tall without arrogance.



Monday, 11 March 2013

Berjiwa seni.

Semenjak kecil lagi aku berjiwa seni. Tapi seni jenis apa, aku sendiri pun tidak lah arif sangat. Yang aku tahu, sejak kecil, dunia fantasi dan imaginasi aku merupakan dunia di mana aku sering pergi pada waktu duka dan luka.

Ketika itu, pada waktu aku di dalam kamar bersendirian, aku lah bersama perwira-perwira gagah berani yang kulihat dan ku amati dari dalam kaca televisyen. Aku lah antara pendekar-pendekar yang berani memperjuangkan dan menjaga keselamatan manusia sejagat bersama teman-teman yang lain. Aku siap membina jalan cerita untuk diriku sendiri. Jalan cerita di mana twist dan plotnya yang tersendiri. Aku siap memperagakan cape dan bertopengkan kudrat.

Dari situ, minatku untuk membikin filem, atau untuk menerjemahkan plot-plot di dalam benakku kepada orang lain mula menumbuh. Aku bercita-cita untuk membikin satu cerita, satu sahaja. The ultimate story. Tapi masih belum mencapai cita-cita itu. Barangkali aku masih terlalu kritikal kepada diriku sendiri. Terlalu bersifat judgemental kepada karya-karya sendiri.

Aku ingat juga pada waktu aku di bangku sekolah menengah, aku mengalami fasa di mana aku mula mencipta lirik-lirik lagu ataupun lebih mudah untuk dikatakan, aku menggubah lirik-lirik prosa yang berbentuk rap berbahasa inggeris. Ya, aku juga pernah melalui ketika itu di manah hip hop merupakan salah satu pilihan gaya buat aku. Contrary to popular beliefs. Aku tidaklah berapa minat boybands, ketika itu. Maka, bermulalah aku menggubah-gubah lagu yang berbentuk sajak, puisi, asalkan perkataan kat hujung ayat rhymes dengan ayat sebelum atau selepasnya.

Aku kira, semua karya-karya aku waktu itu, are golden. Karya-karya yang bisa menandingi pemuisi, penyajak seperti A Samad Said. Betapa daif dan naif aku pada saat itu...

Namun, tidak salah bagi aku jikalau kita ini berjiwa seni. Sekiranya kita mempunyai bakat malah minat dalam seni, biarpun seni tulisan atau perkataan atau perbuatan, asalkan berseni, maka dialu-alukan untuk terus mencungkil dan mengasah skil-skil tersebut.

Malah mengikut kata-kata Muhammad Ahmad Ar-Rasyid, penulis buku Muntalaq (titik tolak), puisi itu adalah sesuatu yang diperlukan, lebih-lebih lagi pada zaman sekarang.



Terdapat suatu ketika di mana Ibnu Taimiyyah, Syeikhul Islam pada zamannya, dilawan ataupun lebih mudah lagi bahasanya, dibangkang dengan ahli-ahli bid'ah. Pada ketika Ibnu Taimiyyah giat menyebarkan sunnah bermaterikan dengan hujjah-hujjah yang sangatlah rasional serta terbukti, namun usahanya ditandingi dan diseterui oleh ahli-ahli bid'ah yang juga giat menyebarkan ajaran mereka.

Usaha ahli bid'ah itu disambut dengan baik kerana apa?

Kerana mereka menyebarkannya melalui medium seni. Melalui puisi-puisi yang disolek dan dimolek dengan keindahan dan kecantikan sajak-sajak. Walaupun sesuatu yang batil, kata Muhammad Ahmad Ar-Rasyid, dapat ditutupi keburukannya dengan memakeup keburukan itu menggunakan puisi-puisi. Maka dengan itulah orang akan lebih tertarik dengan hujjah-hujjah bid'ah berbanding hujjah-hujjah sunnah. Disitulah manusia akan lebih gemar memilih batil daripada haq.

Kerana apa?

Kerana jiwa-jiwa lebih mudah tersentuh dengan seni. Lebih mudah tertarik dengan perkara-perkara yang cantik dan indah. Jikalau sebaliknya duginakan, dengannya puisi, al-haq itu lebih diperjelaskan lagi, lebih memaniskan lagi, lebih memikatkan lagi. Maka, untuk kita zaman sekarang. Perlulah kita pergunakan kehandalan dan keahlian dan juga kepakaran kita dalam bidang masing-masing terutama bidang seni ini supaya dapat menarik lebih ramai lagi hati-hati dan jiwa-jiwa yang kehausan dan yang dahagakan tarbiyyah dan kedekatan dengan Allah.

Secara fitrahnya, memang kita sukakan sesuatu yang cantik, dan menolak sesuatu yang jijik. Tak bukan?

Maka, percantikkanlah, indahkanlah cara-caramu. Pergunakanlah puisi, perkemaskanlah diri, rapikanlah saf, dan aturkanlah rencana dengan baik untuk memikat insan-insan supaya dapat mengikuti bersama-sama kita dalam barisan haq ini. Ayuh!!

Zaman satu bangsa yang hina
Akan ada ilmuan, sasterawan dan orang yang arif bijaksana
Mereka kelihatan berbeza dengan pelbagai ideologi
tetapi semuanya sependapat dengan satu target
Mereka ajar anak singa agar menjadi kijang yang pengecut
dan mereka padamkan kisah-kisah singa pada bicara silam
Cita-cita mereka, menggembirakan hamba dengan perhambaan
Seluruh pengajaran mereka hanyalah penipuan cendekiawan

dipetik dari Sir Muhammad Iqbal, dalam Muntalaq, karya Muhammad Ahmad Ar-Rasyid.

Sunday, 10 March 2013

Before and after.

Perihal entri yang sebelum ini. Mungkin setelah ditelaah dengan lebih teliti, apa yang aku tuliskan itu berunsur merapu-rapu dan juga berbentuk nak meluahkan dan memulakan semula penulisan yang sudah lama aku tinggalkan.

Jadi entri ini mungkin untuk lebih menjelaskan lagi dengan lebih baik apa yang ingin aku sampaikan pada entri sebelum ini, yakni tentang tajuk utamanya adalah doa.

Doa merupakan sesuatu yang berkuasa bagiku. Doa itu senjata yang paling kuat yang pernah aku hunus, aku acu, aku pegang dan seabagainya. Aku tidak pasti ini adalah hadith sahih ataupun tidak, namun yang sering kita dengarkan adalah doa itu merupakan sejata mu'min.

Apa yang kita doakan, sudah pasti Allah akan mengabulkannya. Lebih-lebih lagi pabila pada kita bersujud. Hambanya itu lebih dekat dengan penciptaNya apabila ketika dia bersujud kepadaNya. Maka Allah akan lebih mendengar rintihan kita, doa dan hajat kita.

Maka, disini terwujudnya fiqh doa di mana ada adab-adabnya dalam cara kita berdoa kepada Allah. Merasa rendah dan hinanya diri ini, merasa kebesaran dan keesaan dan kekuasaan Allah, ingin bertaubat dari kesalahan-kesalahan lepas, dan yakin bahawa Allah akan kabulkan doa kita. Itu antara adab-adab dalam berdoa. Kalau inginkan yang lebih rinci dan jelas, boleh cari di youtube nanti.

Apa yang ingin diluahkan ini sebenarnya, dulu aku pernah berdoa untuk sesuatu. Sekarang bila dah dapat apa yang aku doakan itu, aku terlupa bahawa aku pernah mendoakan untuknya. Malah aku sekarang lupa untuk mensyukuri apa yang sudah Allah anugerahkan kepadaku. Bahkan, aku mengeluh, bahawa apa yang aku dapat kini, sesuatu yang betul-betul mencabar diri aku, dan juga orang lain yang terlibat. Maka, disitulah datangnya ketidakpuasan, ketidaksyukuran seorang hamba terhadap Penciptanya. Betapa hinanya hamba itu sebenarnya...

ayuh kita layan video dibawah ini sebentar.




Seharusnya kita belajar untuk bersyukur dengan segala apa yang Allah kurniakan kepada kita, walaupun seringkali kita berprasangka buruk terhadap tuhan kita. Apakah ini yang kau perlukan? Apakah ini baik untuk diriku? Sampai bila harus aku bernasib begini? 

Persoalan yang patut ditanyakan, sampai bila kita nak sedar, banyak yang telah Allah berikan rezeki kepada kita. Sampai bila kita nak sombong kepada tuhan kita? Sampai bila kita nak berlengah-lengah dalam mensyukuri nikmatNya, rezekiNya, kurniaNya, anugerahNya? 

Sampai bila?

Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintahku dan beriman kepadaku, agar memperoleh kebenaran. (2:186)