Showing posts with label Picture-related. Show all posts
Showing posts with label Picture-related. Show all posts

Thursday, 25 September 2014

Seorang Akhi

The world revolves and orbits nonstop. It doesn't stop just because something happens to you. And yet, when something so profound, so devastating, so surprising that comes at you shocking, you expect that the world has to stop, even for a moment, because you need that moment to take it all in, take the experience, absorb it slowly, digest it emotionally, to have a better understanding at what is going on. 

But then the saying emerges, the world doesn't revolve around you. And life goes on. It passes by, at its own pace, so much so, that you are just barely keeping up, that you feel like you are always getting left behind to a point where you feel like you're at the end of the line hanging by a thread waiting for the ball to drop.

Which makes you realize nonetheless, life goes on, at its own pace, without noticing your existence, making you feel insignificant, adding to the list of long insignificancies(?) you are already aware of yourself. 

You end up speechless, unable to comprehend the meaning of the timeline, eventhough you believe that there is a silver lining to every incident, believing that the All-knowing, Almighty has His plans, you still end up flabbergasted in awe of it all. 

I was very lucky to have been able to meet him, to get to know him even for a brief moment compared to those more near and dear to him. Enclosed with this post, is a picture of a dessert that i did get to enjoy stuffing myself after watching how he made it so simply yet so deliciously. This was the last dessert- perhaps in the so forgetful mind that i have- that i have been able to have shared, during the last meeting of my very latest memory i have of him.

Eating it incited in myself to try to make one of my own but i have never been able to cook up the exact replica of his, which makes it ok for me, since that made it unique and one of a kind. 

May allah forgive him, May Allah grant him the best of Jannah to have undergone a great and hard test together with his family, may Allah ease his family and their trials. He has taught me so much, when actually i thought that i should have been teaching him. It goes to show that life is where you learn and never stop doing so, that you can learn many things from many people all around you. You just have to listen and learn.

Hadith narrated by Abu Hurayra that can be found in Sahih Muslim (#1631) and al-Tirmidhi (#1376) that The Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) said, 

“When the son of Adam dies, all his deeds come to an end, except for three: ongoing charity, beneficial knowledge or a righteous son who will pray for him.”

May your deeds still multiply in the actions and akhlaq of those hearts you have touched so softly.

And also another picture is about the last time i was with him and other brothers during our last halaqah. After the disbandment of the halaqah-in other words me having to relocate and them being passed to another more reliable murabbi- i never really got the chance to see and talk to him properly.

Although i did get a chance to see him during his stays in the hospital and i was very relieved to have had the opportunity to at least visit him face to face during his hardship.
I pray for the best.

Wednesday, 24 September 2014

Susah memang susah

Beribu-ribu kali berjanji dan berazam untuk berubah, namun akhirnya kecundang lagi. Mungkin tidak cukip beribu, maka diperlukannya berjuta. 

Hati yang sarat dengan dosa apatah lagi tubuh dan anggotanya yang tidak jemu melakukan maksiat akan terasa pelik bila melakukan kebaikan. Setelah sekian lama terbiasa dengan tabiat-tabiat yang mudah dan memuaskan kesenangan, apabila berdepan dengan cabaran ingin melakukan perkara yang berlawanan dengan nafsu, sangat sukar dan sulit. 

Memang fitrah manusia sukakan kepada kebaikan, kebenaran, keindahan apatah lagi yang membawa kepada ketenangan dan kebahagiaan bilamana ia mendekati tuhannya. Namun pada jiwa yang sudah jauh dari tuhannua, sudah tidak mengenali siapa tuhannya, yang sudah tidak mengenali hakikat dirinya sendiri, akan memerlukan waktu dan memerlukan tenaga yang banyak untuk meningatkan dan membangkitkan dirinya dari kelenaan dunia dan kepuasan nafsu yang bermaharajalela. 

Memang penat bila kita melawan nafsu, memang payah dan memang perit. Bayangkan seorang yang sudah ketagih dadah, mungkin dia tahu keburukan dan kejelekannya, mungkin tidak. Namun dalam satu sudut dalam dirinya, dia pasti dapat merasakan bahawa dadah apa jenis yang dia pakai atau makan atau gunakan itu membawanya ke jalan yang tidak dia sukai sekiranya dia sedar pada penghujung jalan itu adalah sesuatu yang membawa parah. Walaubagaimanapun, akhirnya diri akan kecundang kepada nafsu, akhirnya seolah-olah tidak dapat untuk dirinya mengawal diri sendiri melawan keinginan, kehendak, kebiasaan dan ketertarikan yang membuak-buak di dalam jiwanya yang menghidupkan dirinya untuk meneruskan dengan dadahnya itu. 

Kerana melawan keinginan itu sangat penat. Menahan diri sangat penat. Yang mudah dan senang adalah mengikut dan menuruti, menunduk dan mematuhi, melaksanakan dan melakukan segala printah dan kehendak nafsu, sehinggakan terpedaya dengan kesenangan sementara yang diperolehi. Sehinggakan terlupakan kepada keburukan dan marabahaya yang menanti di penghunjung jalan ini, terlena dan lalai dibuai euphoria.

Lantas, bagaimana bisa untuk kita melawannya? Sedangkan apa yang kita hadapi, apa yang kita mendepani, adalah diri kita sendiri. Musuh kita ada darah daging yang cuba kita senangi dan bahagiakan, adalah jiwa yang membisik kepada kita ketika sendirian malah dalam keramaian. 

Lantas bagaimana aku ingin melawan cerminan aku? Bagaimana aku ingin mengubah diri aku, membentuk satu permata yang berkilau dan berainar di dalam kegelapan dunia yang tenggelam di dalam kekotoran, kenodaan dan kenistaan.


Tuesday, 19 March 2013

In search of a new heart.

Our hearts needs constant evaluation and purification.

A term colloqiually phrased as Tazkiyyah and Muhasabah.


More often than not, we make mistakes.

Sometimes, we make them too often, it becomes a habit.

Thus, after it becomes habitual, we tend to believe that it's not something wrong. That it has become a part of us. That it has integrated in our daily life. That we are trying to defend it rather than getting rid of it.

Problems become too usual for us, we tend to forget that they are actually problems. And there it is!

The root of all the problem.

The heart or in this case, our Qalbu.

Is has become desensitized to ugly deeds. Is has lessened it's ability to detect harmful doings. It has become accustomed to making sins. And there it is!

Emerges another new problem.

Sins becoming habitual.

May Allah show us a straight path and may we always and forever be on the side of Iman. On the tip of the scales, more leverage on the right side. The al-haq side.

Allahu muqqalibal qulub, thabbit qalbi ala deenik. O mover (or flip-flopper) of hearts, make my heart firm upon your religion

p/s: i can easliy debate on how scientifically this hadeeth can be proven, but i lack the enthusiasm tu persuade and make people see the truth at this moment. For to those who are of the mu'minin. They do not need proof to the rightousness of an ayah or a surah or a hadeeth. They should easily believe that all the syariah that Allah has sent down to us in the quran, has all the merit, goodness and benefit in the world. He is All-knowing. Is He not? 

Wednesday, 13 March 2013

Lahirnya singa.

Mengambil maksud dari kata-kata Syed Qutb dalam tulisannya Ma'alim Fit Thoriq, kalimah termasyhur, kalimah tertinggi, kalimah La Ilaha Ilallah, merupakan satu kalimah yang paling berkuasa.

It empowers you.

Bukan bererti kalimah itu merupakan satu kalimah berhikmat dari segi unsur ilmu hitam dan sorcery. Not in the sense that it is a word that has magical properties. Namun yang ingin aku maksudkan di sini adalah kerana kalimah itu, ia dapat mempersaudarakan yang bukan ada kaitan antara satu sama lain bahkan yang bukan mempunyai hubungan darah atau talian keluarga. Kerana kalimah itu ia juga dapat membebaskan manusia dari belenggu-belenggu kebatilan dan taghut. Kerana kalimah itu, bumi ini aman dan sentosa dijaga oleh peraturan-peraturan yang ditegakkan oleh khalifah yang berpandukan secara asasnya kalimah tersebut dengan segala upaya dan usaha mereka.

Itulah kisah silam yang tidak diceritakan dengan penuh antusias dan keizzahan. Barangkali ada, namun jarang. Rare.

Melainkan kita ini mengelilingi diri kita dengan manusia-manusia yang mempunyai rasa izzah dan semangat sepertimana yang ada pada sosok-sosok tokoh salafussoleh pada waktu dahulu. Bukankah khususnya sejarah KITA merupakan satu fakta, bukan fantasi. Bererti zaman pemerintahan Islam sebagai ustaz kepada seluruh alam, merupakan satu kisah yang bukan direkayasa. Bukan satu kisah yang menjadi satu mitos hanya digunakan pada waktu ingin berstorytelling untuk kanak-kanak sahaja mahupun sebagai peluru-peluru yang disimpan untuk dipakai pada waktu kita berjidal (debat).

Bahkan kisah-kisah para sahabat terdahululah yang memberikan kita semangat dan juga ibrah untuk mendepani kenyataan dan realiti zaman sekarang. Di mana satu bid'ah besar yang sedang berlaku ditengah-tengah lautan dunia manusia ini, tanpa mereka sedari bahawa ia sedang berlangsung.

Kenapa bisa terjadi begitu?

Memetik dari petikan dalam al-muntalaq, ditulis oleh Muhammad Ahmad Ar-Rasyid, penulis yang tersohor juga pada waktu kini:

Plan pendidikan mereka ini telah melahirkan kijang-kijang yang pengecut, tidak lagi mampu menerkam. Kijang-kijang ini tidak mahu lagi memikul apa-apa tanggungjawab dan sentiasa cuba melarikan diri seboleh-bolehnya....!
Inilah generasi baru putera-puteri Islam...!
Anak-anak singa yang bertukar menjadi kijang pengecut,

Sebenarnya mereka itu merdeka, lalu diperhambakan, dan mereka bergembira menjadi hamba.
- Bab 1, Menolak Al-Hawa, Anak singa diubah menjadi kijang yang pengecut.
Itulah kenyataan dahulu, dimana generasi dahulu yang digelar singa-singa Islam, pedang Allah, sanggup berjihad dan mati syahid mempertahankan kemuliaan, kedaulatan Islam dan kesucian yang dibawanya.

Mereka takkan pernah menerima dan sanggup menarik diri jika ditemukan pelusuk negeri di mana ada muslim di situ ditindas. Malah mereka tidak bisa membiarkan negeri mana-mana yang diperhambakan kepada manusia lainnya. Bak kata Syed Qutb, kalimah ini mengeluarkan kita daripada perhambaan antara sesama manusia kepada perhambaan kepada Allah. Mengeluarkan diri manusia dari perhambaan nafsu, perhambaan kebendaan, perhambaan jahiliyah kepada perhambaan kepada Allah sahaja. Bukankah Allah lebih berhak untuk menerima pujaan dan pujian kita? Bukankah Allah lebih berhak untuk mendapat pengabdian daripada kita?

Kenyataan kini?

Namun kalau kita lihat waqi' (keadaan) sekarang, kita dapat menemukan bukti-bukti dimana kembalinya manusia dan peradabannya kepada waktu dahulukala dimana perhambaan itu adalah sesama antara manusia. Mungkin tidak kelihatan persis mirip seperti waktu dahulu, namun sebenarnya kalau kita lihat dengan lebih teliti, kita dapat jumpa bahawa ia sudah menjelma dalam bentuk yang lebih kontemporari.

Di mana hukum-hukum Allah itu tidak dipedulikan. Malah dikira hukum-hukum buatan manusia lebih baik dan berkesan untuk menjadi peraturan hidup daripada syariat Allah yang sudah Allah tetapkan. Maka dengan itulah bermulanya, atau sudah lama berlangsung suatu pembodohan terhadap kaum manusia, di mana kaum manusia sudah kembali kepada salah satu bentuk perhambaan kepada manusia, daripada mengabdikan diri kepada Allah Maha Pencipta Maha Berkuasa. Yakni dengan mengikuti aturan-aturan buatan manusia, dan meyakini aturan itu lebih baik daripada diaplikasikan, dipraktikkan, dipercayai aturan yang sudah Allah rencanakan dan bikin untuk mereka.

Disitulah bermulanya, atau sudah lama berlangsung pembodohan itu. Pendidikan baru yang diajarkan dan diakartumbuhkan kedalam benak generasi baru ini berunsurkan kepada pembodohan. Pendidikan yang dibrandingkan sebagai Free Education, membawa anak-anak sekarang kearah satu penipuan supaya mereka ini dijinakkan, supaya melahirkan pengikut-pengikut, supaya mereka ini berada di dalam genggaman musuh-musuh KITA, supaya kita ini tunduk kepada kekuasaan mereka yang tidak berapa nak berkuasa pada hakikat sebenarnya, supaya kita ini disibukkan dengan mencari sesuap nasi untuk survive dalam dunia yang sudah semakin parah dari segi ekonomi, kononnya. Memenuhi kepala otak kita dengan fikiran di mana kita ini sudah ke arah suatu decline dan kita harus berusaha sedaya upaya untuk fikirkan jalan penyelesaian kepada harga-harga dunia ini. Menakuti kita dengan mengalih perhatian kita kepada masalah yang duniawi.  Padahal itulah masalahnya. Perhatian kita difokuskan kepada dunia, materialisme.

Kita sudah dijinakkan.

menukar helang rajawali menjadi burung puyuh,
mereka memperdayakan angkatan berkuda dengan irama merdu
lalu membenamkan bahtera ke dasar laut
mereka tidurkan kita dengan iramanya
dan memadamkan obor kita dengan tiupan nafasnya.- Sir Muhammad Iqbal, Al-Muntalaq.

We are the generation of the supposed to be lions that are tamed to be at the behest of their so called materialistic empire.

Kita dibuai dengan irama merdu mereka sehinggakan kita menjadi terlena, berdengkur...

Bangunlah angkatan Singa! Jadilah singa setiap dari kamu!

Mulakanlah langkahmu untuk membangunkan ummat ini dari tidur lena mereka kerana setelah ini, tidur yang lebih enak akan tiba. Gerakkanlah jari jemarimu, kakimu, tubuhmu, mulakanlah kerja dalam membangkit himmah dan menunjuki toriqul amal kepada ummah ini dalam mengembalikan kekuasaan yang sepatutnya hanya kepada Allah azza wa jalla. Dari saat itulah baru kita akan benar-benar menjadi merdeka. 

Merdeka dari perhambaan manusia sesama manusia dan nafsu. Hanya mengabdikan diri kepada Allah. Itulah merdeka yang hakiki, tak bukan?

Thabbatkanlah hatimu di jalan ini. Istiqomahlah dalam amal-amal yaumiyah. Wajibkan diri dalam menghadiri majlis-majlis tafakkur. Semuanya bermula denga tarbiyyah. 



Jangan jadi anak kucing yang mudah dijinakkan. Yang senang terbeli dengan pemberian seperti tulang ikan, secebis daging, seteguk susu. Sehinggakan dihina sebegitu rupa. Dibiarkan hidup dalam kemiskinan dan penindasan. Dipecahbelahkan supaya kita sesama sendiri bertengkar dimana mereka hidup dengan kemewahan hasil dari penipuan dan pembohongan terbesar zaman sekarang.

Itu sebenarnya tidak memadai bagi KITA. Sebenarnya bagi KITA ini, tidak boleh menerima sedikit pun, atau seolah-olah kita pasrah dengan "ketentuan" sebegini rupa. Kita haruslah menjadi sensitif dan peka terhadapa keadaan sekarang.Kita tidak boleh duduk berdiam diri, hanya berdoa suatu hari Allah akan berikan kemenangan kepada KITA ini. Kita mengharapkan sesuatu yang mircale terjadi tanpa kita berusaha untuk menghasilkan miracle itu.
Imam Ibnu Athaillah mengingatkan,

wajarkah kita mengharap sesuatu luar adat akan berlaku sedang kita tidak keluar dari adat kebiasaan kita yang kerap tunduk pada hawa nafsu?
Jadilah singa, yang tidak gentar menghadapi lawan, berani menerkam sesiapa yang memasuki wilayahnya, lantang dalam mengaum untuk put people at their place, supaya mereka sedar kedudukan mereka, hanyalah sebagai hamba Al-Khaliq.  Singa yang gagah perkasa, bertarung dan berentap sehingga nafas terakhir, yang merasa izzah dengan kekuatannya sebagai Khalifah (king of the jungle) di muka bumi ini, a lion that stands tall without arrogance.



Monday, 11 March 2013

Berjiwa seni.

Semenjak kecil lagi aku berjiwa seni. Tapi seni jenis apa, aku sendiri pun tidak lah arif sangat. Yang aku tahu, sejak kecil, dunia fantasi dan imaginasi aku merupakan dunia di mana aku sering pergi pada waktu duka dan luka.

Ketika itu, pada waktu aku di dalam kamar bersendirian, aku lah bersama perwira-perwira gagah berani yang kulihat dan ku amati dari dalam kaca televisyen. Aku lah antara pendekar-pendekar yang berani memperjuangkan dan menjaga keselamatan manusia sejagat bersama teman-teman yang lain. Aku siap membina jalan cerita untuk diriku sendiri. Jalan cerita di mana twist dan plotnya yang tersendiri. Aku siap memperagakan cape dan bertopengkan kudrat.

Dari situ, minatku untuk membikin filem, atau untuk menerjemahkan plot-plot di dalam benakku kepada orang lain mula menumbuh. Aku bercita-cita untuk membikin satu cerita, satu sahaja. The ultimate story. Tapi masih belum mencapai cita-cita itu. Barangkali aku masih terlalu kritikal kepada diriku sendiri. Terlalu bersifat judgemental kepada karya-karya sendiri.

Aku ingat juga pada waktu aku di bangku sekolah menengah, aku mengalami fasa di mana aku mula mencipta lirik-lirik lagu ataupun lebih mudah untuk dikatakan, aku menggubah lirik-lirik prosa yang berbentuk rap berbahasa inggeris. Ya, aku juga pernah melalui ketika itu di manah hip hop merupakan salah satu pilihan gaya buat aku. Contrary to popular beliefs. Aku tidaklah berapa minat boybands, ketika itu. Maka, bermulalah aku menggubah-gubah lagu yang berbentuk sajak, puisi, asalkan perkataan kat hujung ayat rhymes dengan ayat sebelum atau selepasnya.

Aku kira, semua karya-karya aku waktu itu, are golden. Karya-karya yang bisa menandingi pemuisi, penyajak seperti A Samad Said. Betapa daif dan naif aku pada saat itu...

Namun, tidak salah bagi aku jikalau kita ini berjiwa seni. Sekiranya kita mempunyai bakat malah minat dalam seni, biarpun seni tulisan atau perkataan atau perbuatan, asalkan berseni, maka dialu-alukan untuk terus mencungkil dan mengasah skil-skil tersebut.

Malah mengikut kata-kata Muhammad Ahmad Ar-Rasyid, penulis buku Muntalaq (titik tolak), puisi itu adalah sesuatu yang diperlukan, lebih-lebih lagi pada zaman sekarang.



Terdapat suatu ketika di mana Ibnu Taimiyyah, Syeikhul Islam pada zamannya, dilawan ataupun lebih mudah lagi bahasanya, dibangkang dengan ahli-ahli bid'ah. Pada ketika Ibnu Taimiyyah giat menyebarkan sunnah bermaterikan dengan hujjah-hujjah yang sangatlah rasional serta terbukti, namun usahanya ditandingi dan diseterui oleh ahli-ahli bid'ah yang juga giat menyebarkan ajaran mereka.

Usaha ahli bid'ah itu disambut dengan baik kerana apa?

Kerana mereka menyebarkannya melalui medium seni. Melalui puisi-puisi yang disolek dan dimolek dengan keindahan dan kecantikan sajak-sajak. Walaupun sesuatu yang batil, kata Muhammad Ahmad Ar-Rasyid, dapat ditutupi keburukannya dengan memakeup keburukan itu menggunakan puisi-puisi. Maka dengan itulah orang akan lebih tertarik dengan hujjah-hujjah bid'ah berbanding hujjah-hujjah sunnah. Disitulah manusia akan lebih gemar memilih batil daripada haq.

Kerana apa?

Kerana jiwa-jiwa lebih mudah tersentuh dengan seni. Lebih mudah tertarik dengan perkara-perkara yang cantik dan indah. Jikalau sebaliknya duginakan, dengannya puisi, al-haq itu lebih diperjelaskan lagi, lebih memaniskan lagi, lebih memikatkan lagi. Maka, untuk kita zaman sekarang. Perlulah kita pergunakan kehandalan dan keahlian dan juga kepakaran kita dalam bidang masing-masing terutama bidang seni ini supaya dapat menarik lebih ramai lagi hati-hati dan jiwa-jiwa yang kehausan dan yang dahagakan tarbiyyah dan kedekatan dengan Allah.

Secara fitrahnya, memang kita sukakan sesuatu yang cantik, dan menolak sesuatu yang jijik. Tak bukan?

Maka, percantikkanlah, indahkanlah cara-caramu. Pergunakanlah puisi, perkemaskanlah diri, rapikanlah saf, dan aturkanlah rencana dengan baik untuk memikat insan-insan supaya dapat mengikuti bersama-sama kita dalam barisan haq ini. Ayuh!!

Zaman satu bangsa yang hina
Akan ada ilmuan, sasterawan dan orang yang arif bijaksana
Mereka kelihatan berbeza dengan pelbagai ideologi
tetapi semuanya sependapat dengan satu target
Mereka ajar anak singa agar menjadi kijang yang pengecut
dan mereka padamkan kisah-kisah singa pada bicara silam
Cita-cita mereka, menggembirakan hamba dengan perhambaan
Seluruh pengajaran mereka hanyalah penipuan cendekiawan

dipetik dari Sir Muhammad Iqbal, dalam Muntalaq, karya Muhammad Ahmad Ar-Rasyid.

Wednesday, 23 January 2013

Lemah dan lelah

Aku rasa seperti aku ini seorang yang lemah, seringkali menangis di depan Allah, seringkali merasa kerdil pada pandanganNya. Seringkali mengeluh dan mengomel bersendirian dengan segala tanggungjawab yang tidak tertunaikan, dengan segala amanah yang tidak terlaksanakan, dengan segala janji yang tidak dikotakan.

Sesungguhnya al wajibaat aktharu minal awqaat.

Memang dasar hamba yang lalai! Senang terbeli dengan dunia yang dihiasi dengan tipu daya dan halusinasi yang tidak pada hakikatnya wujud untuk selamanya. Terbeli dengan dunia yang kelihatan sangat cantik dan indah dan menyenangkan tetapi tidak menenangkan. Merasa kegembiraan tetapi tidak memberi ketenteraman. Perkara-perkara yang hanya bersifat sementara lazimnya tidak dapat wujud selamanya.

Itulah dia tipu daya dunia. Wamal hayatu dunnya, illa mata ulghurur.



Sungguh keji dan celakalah sesiapa yang terbeli dengan ajakan-ajakan dan pujukan-pujukannya. Sungguh jahil dan tidak mengerti kalau di hati bermulanya mekar dan mewangi hubbun dunia.

Ya Allah aku mohon kepadaMu, aku ini hambaMu yang lemah dan kecil. Hanya Engkau sahaja yang berkuasa. Engkaulah Maha Esa. Pada Engkaulah aku mohon perlindungan, aku mohon pertolongan, aku berharap dan aku berdoa. Tolonglah kurniakan kami petunjuk hidayahMu. Kurniakan kami taufik hidayahMu.

Maiyuridillahu fiha khairan, yufaqqihu fideen. Maka bagilah dan berilah kami kefahaman dalam Ad-Deen, Deenul Islam ini. Sesungguhnya itulah khoiru minad dunya wamafiha.


Tuesday, 8 January 2013

Hidup seorang narsis.

Seringkali kita terlupa, alpa dan terlepas pandang hidup orang lain.

Kita sedar bahawa kita ini hidup dalam satu dunia, dalam satu alam wujud di mana keberadaan manusia-manusia dan makhluk-makhluk lain yang diciptakan Allah ada di sekeliling kita ini. Dalam kehidupan seharian kita, dalam kesibukan kerja dan pelajaran kita, dalam keseronokan dan kegembiraan cengkerama kita, kita sebenarnya tahu akan hakikat sebenar kehidupan.

Namun selalunya, kita alpa, atau mungkin secara tidak sedar dan di bawah kesedaran itu, kita memilih untuk menolak hakikat tadi, malah kita memilih untuk tidak mengendahkannya. Maka, kita menjalani hidup kita tanpa memikirkan tentang kehidupan orang lain. Kita menjalani hidup kita untuk diri kita sahaja, semuanya di dalam dunia ini, kita mengejar sesuatu yang kita inginkan, adalah atas dasar kepentingan diri kita sahaja.

Kita mudah lupa, terdapat banyak, malah tak terkira manusia yang lebih teruk dan buruk nasibnya daripada kita ini. Namun, kita tidak ambil tahu dan tidak bersikap empati langsung. Bahkan kita ini seringkali merungut dan complain sambil mengeluh bahawa makanan di atas meja kita ini tidak sedap, duit tidak cukup untuk beli gajet-gajet terbaru, mak ayah selalu tak memberi perhatian lebih kepada kita, kawan-kawan kita asyik buat itu buat ini tak berajak...

Jelaslah bahawa hidup kita itu, seputar masalah-masalah dilemma yang sejenis itu sahaja. Tidak pernah  untuk keluar dari kotak fikiran yang lebih luas dan lebih mendalam. Tidak pernah untuk meluangkan masa memikirkan masalah atau nasib yang kurang baik yang dialami saudara-saudara, takpun manusia sesama manusia (kalau tak mengaku saudara). Masalah-masalah yang pada dasarnya adalah sangat trivial dan tidak penting langsung dan boleh ditangani dengan segera jika kita tidak ambil kisah pun pada perkara-perkara kecil.

Ada banyak lagi perkara kecil yang lebih pentingm ,misalnya seorang budak kecil tak cukup makan gara-gara masih berlangsung satu peperangan dan satu bentuk penjajahan di daerah tempat tinggalnya. Dia bersama keluarganya yang ramai, tidak cukup makan, namun mereka masih bersyukur dengan apa yang mereka ada. Rezeki yang Allah berikan kepada mereka itu, Wallahi, sudah cukup buat mereka.





Hanya Allah sahaja yang tahu apa perasaan yang menyelubungi aku setelah aku melihat dan membaca tentang kisah adik kecil ini. Sebak di dada dan sedih aku memikirkan dan mengenang nasibnya. Aku berdoa kepada Allah untuk memenangkan Islam, untuk membebaskan umat ini dari belenggu-belenggu taghut dan jahiliyah. Aku berdoa kepada Allah untuk membalas orang-orang yang menindas saudara-saudaraku ini dengan sekeras-keras balasan.

Aku titipkan doa ini kepada malaikat, supaya doa ini secepat-cepatnya sampai. Aku percaya, aku yakin, Allah pasti akan membantu mereka dan KITA.


Di dalam alam yang lain. Pejam celik-pejam celik dah pun tahun baru, tahun 2013. Allah masih mengurniakan kita umur yang panjang dan peluang untuk kita kembali kepadanya. Untuk kita abdikan diri kita kepadanya sebelum ajal mendatang.

Balik kepada isu sifat narsis pada diri kita. Apa yang kita fikirkan waktu datangnya tahun baru, adalah untuk menyambut tahun baru itu di mana-mana tempat bersama orang-orang tersayang. Lebih afhdal rasanya bila menjelmanya tahun baru, ataupun sepatutnya setiap detik, haruslah kita sentiasa dalam keadaan muhasabah diri. Kita harus fikirkan kembali apa amalan-amalan yang telah kita lakukan. Kita harus ingatkan diri kita untuk bersiap sedia untuk ajal yang akan datang dan pasti datang. Kita harus syukur atas nikmat dan rezeki yang Allah sentiasa limpahkan ke atas kita.

Ingatlah, Allah Maha Besar dan Maha Pemurah. Syukurlah kepada Allah, mintalah kepada Allah, berharaplah kepada Allah.

KullhuwAllahu ahad. Allahu somad. Lam yalid walam yulad. Walam yakullahu kufuan ahad. (Al-ikhlas:1-4)

Thursday, 19 April 2012

Bercuti...


Sebenarnya tiada cuti padaNya, sepertimana tiada cuti pada solat.

Monday, 12 September 2011

Back to square one.

Memang dah jadi satu rutin bila kita balik, kita luangkan masa bersama orang tercinta, dah tiba waktu untuk pulang, kita terpaksa pulang, kita rasa sedih. Menjadi satu putaran yang tak pernah nak ada penghujungnya.

Kadang-kadang dah bosan dan muak asyik rasa sedih dan rasa macam nak putus asa sahaja. Tetapi barangkali Allah dah tetapkan sebegitu rupanya. Untuk bersusah-susah dahulu, supaya apabila mendapat kesenangan itu nanti, kita tidak akan sia-siakannya. Tak bukan?

Kalau nak cerita soal apa yang telah aku dapat dan buat selama aku bercuti, aku rasa tak cukup kertas (oopss pakai blog). Sebenarnya aku malas nak tulis.

Apa yang aku nak tulis, adalah tentang kesyukuran aku. AKu bersyukur sangat diberi peluang untuk bertemu semula dengan beberapa sahabat-sahabat aku yang sudah lama aku rindui. Walaupun ada juga beberapa sahabat yang tidak sempat aku bertemu, tapi aku percaya, InsyaAllah, aku akan bertemu dengan mereka semula pada masa akan datang.

Aku hanya ingin menyampaikan satu pesanan. Kepada sahabat-sahabat aku. Aku hanya ingin memesan kepada kamu orang, teruskanlah dengan ikatan silaturrahim kita ini. Teruskanlah dengan selalu berhubun-hubung sesama sendiri. Teruskanlah dengan selalu berjumpa dan berkumpul ramai-ramai atau sedikit-sedikit baikpun untuk seketika ataupun untuk waktu yang lama. Teruskan dengan jalinan kita ini.

Aku lihat zaman sekarang, barangkali, susah nak jumpa sahabat-sahabat seperti kamu. Sahabat-sahabat yang selalu berhubung-hubung sesama sendiri. Banyak daripada beberapa kenalan aku yang memang tak contact langsung dah dengan sahabat-sahabat sekolah/ tuisyen/ asrama/ dll. Kita ini kira bertuah selalu berhubung, dan ada lah juga sempat jumpa walaupun setahun sekali. Alhamdulillah. Segala puji kita kepada Allah. Kalau tidak kerana Allah lah kita dapat bertemu dan berpisah. Kita kena ingat itu.

Aku hanya nak memesan sekali lagi. Jikalau aku sudah tiada (tiba-tiba mood morbid sekejap), aku harapakan dan doakan korang kekalkan amalan kita ini. Kekalkan ziarah menziarahi, tanya khabar, ambil tahu tentang sahabat-sahabat kita ini. Ini adalah satu amalan yang sihat dan baik, insyaAllah.

Nak diingatkan bahawa, terdapat satu golongan di dunia ini yang di mana mereka itu bukan daripada golongan para nabi dan para syuhada namun golongan ini dicemburui oleh golongan para nabi dan para syuhada. Siapakah golongan ini?

Golongan ini adalah orang-orang yang berkasih sayang semata-mata kerana Allah( bertemu dan berpisah kerana Allah). Tapi kita kena faham hakikat sebenar berkasih sayang semata-mata kerana Allah. Apa yang aku faham adalah, sekarang ini, alhamdulillah beberapa sahabat-sahabat aku sudah beriya-iya untuk turut serta dalam merry go round kita ini. AKu bersyukur kepada Allah, moga-moga Allah tidak menarik kembali hidayah petunjuk yang telah diberikan kepada kita.

Kita sayang-sayang kerana Allah. Kita sayang sahabat-sahabat kita kerana Allah, kerana kita sama-sama berkerja keras untuk mencapai tujuan yang sama, iaitu Allah, syurga. Kita sama-sama mengingati yang lain, menjaga yang lain, kerana kita sama-sama nak pergi tempat yang sama. Kita tak nak salah seorang daripada sahabat-sahabat kita ketinggalan. Maka kita bantu mereka. InsyaAllah.

Aku tulis ini, dengan harapan sahabat-sahabat semua isqitomah, tsabat dan ikhlas dalam melakukan apa sahaja untuk mendapat keredhaan Allah. Moga-moga kita dapat berjumpa lagi pada masa akan datang. InysaAllah.

Terima kasih banyak-banyak kepada semua. Ma'a Salama. :)



ps: video sudah siap, cuma ada masalah teknikal dalam publish video itu dan upload sahaja. nantikan sahaja. InsyaAllah.